Langsung ke konten utama

Mau Dibawa Ke Mana Nasib Bangsa Jika Generasi Muda Mati Rasa?


Jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi. Namun, Frans baru saja terbangun dari tidurnya yang singkat setelah hampir semalaman ia ngelayab bersama teman-temannya mencari kesenangan versi generasi milenial. Padahal, hari itu ada mata kuliah yang akan dimulai tepat pukul 8 pagi. Tentu saja ia terlambat.

Frans adalah salah satu mahasiswa di universitas swasta di Kota Tegal. Ia termasuk mahasiswa yang lumayan cerdas, tetapi sayang, semenjak ia mengenal dunia game online dan mulai kecanduan untuk memainkannya, hidupnya berubah. Ia mulai kehilangan konsentrasi untuk belajar dan berpikir kritis. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk bercengkerama dengan smartphone-nya sambil nge-war (Istilah yang digunakan oleh para gamers untuk bermain game perang) bersama teman-teman yang satu aliran dengannya. Frans yang sekarang sangat berbeda dengan Frans yang dulu pada saat ia menjadi Ketua OSIS di SMA yang terkenal begitu disiplin dan mempunyai prinsip hidup yang jelas.

Setali tiga uang, ada kemiripan antara yang terjadi dengan Frans dan Barbara, teman satu angkatan Frans tetapi beda kelas di fakultas yang sama. Di semester 3, Barbara terkenal sebagai seorang aktivis kampus yang cukup garang. Meskipun ia perempuan, tetapi hampir tidak ada laki-laki yang berani “macam-macam” dengannya. Demo-demo dan aksi-aksi yang menentang kebijakan-kebijakan kampus yang dinilai tidak tepat menjadi santapannya selama ia menjadi seorang aktivis kampus.

Namun, “keperkasaan’ Barbara seketika runtuh ketika ia putus cinta dengan kekasihnya. Ia berubah bak “putri salju” yang doyan menangis. Hari-harinya dipenuhi oleh kegalauan dan kegundahan hati yang dapat dilihat dari kedua matanya yang selalu sembab. Terkadang terlihat juga sisa air mata yang masih menggantung di kelopak matanya yang begitu indah. Putus cinta benar-benar membuat hatinya retak. Patah hati benar-benar membikin visi hidupnya hancur.

Usia muda –dalam hal ini adalah jenjang usia antara 18-25 tahun- memang menjadi usia yang cukup rawan dan berisiko. Pasalnya, di saat seharusnya mereka –para generasi muda- sudah “selesai” dengan grand design tentang visi dan tujuan hidupnya di mana mereka hanya tinggal menjalankan manuskrip-manuskrip dari cetak biru masa depan yang sudah dibuat sebelumnya. Namun, terkadang “rencana besar” itu seketika atau secara perlahan dapat berubah sama sekali oleh faktor-faktor yang datang dari dalam maupun dari luar.

Seperti yang dialamai oleh Frans misalnya, ia tentu sudah memikirkan masa depan hidupnya ketika masih berseragam putih abu-abu. Ia juga tentu sudah membayangkan “Pan gadi apa sih enyong mbesuk” ketika akhirnya ia memilih masuk di Fakultas Hukum. Sudah bisa ditebak bahwa Frans pastilah ingin menjadi seorang pengacara, notaris, hakim atau profesi hukum yang lain. Tentu saja agar dapat meraih mimpinya tersebut, Frans harus belajar dan berusaha dengan giat disertai komitmen yang kuat. Namun, Frans ternyata tidak dapat menjaga komitmen hidupnya (baca: mengkhianati prinsip hidupnya) yang ia telah sepakati sendiri sebelumnya. Pergaulan yang salah dan faktor lingkungan membuat ia akhirnya berubah dalam pengertian negatif.

Berbeda dengan Frans yang terpengaruh oleh faktor dari luar, Barbara menjelma menjadi sosok yang melankolis dari yang sebelumnya adalah seorang aktivis kampus yang terkenal garang akibat kondisi dan suasana dari dalam hatinya sendiri. Situasi yang dialami oleh Barbara boleh jadi pernah juga dirasakan oleh hampir semua generasi muda yang pernah merasakan manisnya gula-gula cinta dalam suatu ikatan hubungan yang ekslusif dengan lawan jenis (baca: pacaran). Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana sikap dan menejemen batin seseorang yang mengalami putus cinta. Tentulah penyelesaian masalah dalam hal ini adalah konflik hati setiap orang berbeda-beda karena kondisi psikis seseorang pun juga tidak sama satu dengan yang lain. Barbara dalam hal ini adalah termasuk orang yang belum siap secara psikis untuk menerima kenyataan pahit tersebut.

Generasi Muda itu Apa?


Secara etimologi, muda berarti mereka yang mempunyai semangat yang membara dan berapi-api. Generasi muda dapat dikategorikan mereka yang berada pada jenjang usia antara 18-35 tahun. Seseorang yang berada pada jenjang usia tersebut biasanya memiliki bahan bakar energi yang jarum indikatornya masih berada di angka penuh. Usia muda juga biasanya diidentikkan dengan tingkat mobilitas yang tinggi dan keinginan untuk melakukan perubahan yang juga tak kalah tinggi. Daya dobrak untuk meruntuhkan kekolotan dengan semangat reformasi sebagai bensinnya menjadikan generasi muda sebagai ujung tombak perjuangan. Generasi muda adalah makelar perbaikan. Generasi muda adalah agen tabung gas LPG bernama “Perubahan”.

Tentu tidaklah berlebihan jika mengatakan demikian. Generasi muda dengan pemikiran dan ide-idenya yang begitu cemerlang pastinya menjadi harapan terbesar untuk melakukan transformasi bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Di tengah mandeknya gagasan-gagasan mengenai pembaruan serta inovasi yang dibutuhkan dalam rangka pembangunan bangsa, generasi muda diharapkan dapat tampil dan menawarkan solusi-solusi yang kreatif dan revolusioner untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada.

Mati Rasa?

Namun pada kenyataannya, timbul hal yang ditakutkan dari para generasi muda ini, yaitu matinya kepekaan untuk merasakan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab dan kewajiban mereka. Sikap apatisme ini muncul akibat dari semakin terkikisnya jiwa sosial dan ruh nasionalisme pada diri mereka. Penyebabnya beragam, mulai dari faktor lingkungan, faktor pendidikan ataupun dari diri mereka sendiri.

Frans termasuk korban dari sikap apatisme. Sejak mulai kecanduan narkoba bernama game online, ia tidak lagi memedulikan kondisi dan situasi sekitar. Misalnya ketika sedang berada di dalam ruang kelas, ia sama sekali tidak menghiraukan dosen yang sedang mengajar dan dengan cueknya sibuk “bertempur” di medan perang layar gadget-nya. Contoh lain adalah ketika ia sedang berada di rumah, lagi-lagi ia lebih memilih untuk serius dengan game online-nya sementara di hadapannya ada siaran berita di televisi tentang revisi UU MD3 zonder tanda tangan presiden  yang akhirnya berlaku setelah 30 hari sejak disahkan oleh DPR. Ia sama sekali tidak peduli dengan berita itu dan dampak yang mungkin akan ditimbulkan ke depan.

Lain halnya dengan Barbara, ia tidak lagi berteriak dengan corong megafon di depan mulutnya ketika pihak kampus akhirnya menaikkan biaya Ujian Akhir Semester tanpa kejelasan hal ihwal juntrungnya. Padahal, sebelum temali cintanya putus yang akhirnya membuatnya seakan berada di sebuah tempat antara hidup dan mati, ia pasti akan berada di garis terdepan untuk berorasi menentang kebijakan kampus tersebut dengan dihiasi asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari ban roda mobil yang dibakar.

Generasi Muda Jaman Old versus Jaman Now

            Generasi muda Indonesia pernah berjaya sejaya-jayanya. Generasi muda Indonesia pernah melawan sehormat-hormatnya. Tentu masih membekas di ingatan ketika barisan mahasiswa dan mahasiswi lintas perguruan tinggi Indonesia dengan nasib yang sama, energi yang sama, dan  mimpi yang sama menyatu membentuk sebuah pelangi almamater yang begitu indah di langit 1998. Mereka tak gentar sedikit pun, meski yang mereka hadapi adalah sebuah monster kekuasaan berumur 32 tahun. Mereka tak mundur barang satu senti pun, meski di hadapan wajah mereka ada wajah garang serdadu tentara dengan moncong senapan yang raut mukanya jauh lebih garang. Namun, dengan tekad yang bulat sebulat cintaku padamu, para mahasiswa dan mahasiswi titisan rakyat itu terus memekikkan sabda reformasi. Hingga akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sorak-sorai dari “suara” yang sekian lama dibungkam terdengar begitu bergemuruh mengiringi titah mundur dari sang raja.

            Itulah salah satu kisah epik para pemuda Indonesia yang cukup prestisius. Tentu masih banyak lagi kisah heroik lainnya dengan generasi muda Indonesia sebagai pemain utama. Jika kita putar mundur waktu ke tanggal 28 Oktober 1928, gendang telinga kita tentu akan pecah oleh raungan “singa-singa” muda Indonesia yang meneriakkan ikrar Soempah Pemoeda; sebuah mantra sakti yang akhirnya dapat menyatukan jiwa-jiwa muda Indonesia yang sebelumnya sempat terserak.

            Satu lagi kisah kepahlawanan generasi muda Indonesia jaman old yang begitu melegenda adalah ketika Soekarni, Wikana, Aidit, dan Chaerul Saleh menculik sang Bung Besar dan Bung Kecil yang kelak menjadi Bapak Proklamator Indonesia ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Adalah sebuah langkah yang sangat berani namun dianggap sangat tepat yang dilakukan oleh para golongan muda saat itu sehingga Indonesia akhirnya dapat merdeka pada keesokan harinya. Tentu saja setelah melewati proses perjuangan negosiasi yang alot dengan para golongan tua.

            Jika membandingkan prestasi antara generasi muda jaman old dan generasi muda jaman now, pastilah tidak apple to apple dilihat dari sisi apa dan siapa yang menjadi sasaran perjuangan. Generasi muda terdahulu rela berjuang gagah berani dengan menaruh nyawa mereka sendiri sebagai taruhannya demi melawan dan mengalahkan musuh terbesar bangsa pada saat itu, yaitu penjajahan dan kesengsaraan.

Tentu berbeda dengan perjuangan generasi muda masa kini yang hidup pada era pascakemerdekaan dengan bonus berbagai kemudahan serta kebebasan dalam hal apapun. Boleh jadi, perjuangan generasi milenial masa kini jauh lebih berat. Pasalnya, musuh yang mereka lawan bukanlah kompeni-kompeni kolonial dari luar ataupun senjata-senjata canggih buatan Amerika. Namun, mereka harus melawan musuh yang tidak terlihat, yaitu kebobrokan moral bangsa sendiri.

Ayo Bangkit, Generasi Muda Milenial!

Hasan al-Banna, tokoh perjuangan dari Mesir pernah berkata: “Pemuda adalah mata air kebangkitan dan rahasia peradaban”. Ya, generasi muda, dengan berbagai “kesaktiannya” adalah sumber daya maha dahsyat yang dimiliki oleh suatu bangsa. Di atas pundak mereka, ada masa depan bangsa yang harus mereka perjuangkan. Di depan wajah-wajah mereka yang optimis, ada serangkaian masalah bangsa yang harus mereka selesaikan. Maka sudah seharusnya dan sudah sepatutnya para generasi muda mulai mempersiapkan diri untuk  menjadi generasi muda yang sebenarnya sesuai dengan esensi dan hakikatnya yang sejati.

Marilah sama-sama kita jujur pada diri kita sendiri sebagai pemuda Indonesia; sudah sebesar apa kontribusi kita untuk negara? Sudah sejauh mana langkah kita untuk memperjuangkan nasib bangsa? Apakah rasa nasionalisme itu masih ada di dalam dada kita?

Ayolah kawan, waktu kita masih teramat panjang. Mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Jangan jadi generasi muda masa kini yang durhaka kepada perjuangan orang tua yang dulu juga pernah merasakan “indahnya” masa muda di bawah bayang-bayang penjajahan. Mari belajar sejarah perjuangan bangsa agar kita dapat bercermin melihat betapa kosongnya diri kita ini. Mari mulai mencintai Indonesia dengan lebih dalam lagi. Salam Bhinneka Tunggal Ika. *) “D”.

Komentar

  1. Saya mengapresiasi semangat adik2 utk bersuara melalui tulisan.
    Lebih dr ini, semoga adik2 dapat terus meningkatkan kepekaan dan kepeduliannya utk kemanfaatan sekitar. Salam

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, blognya sudah jadi.
    awal membaca tulisan ini, saya senyum-senyum sendiri. sepertinya saya tahu siapa Frans dan siapa Barbara ahahahaha
    but, overall isinya bagus... sukses untuk semuanyaa! :)

    BalasHapus
  3. Hey2 wait minits.. who is that ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAHASISWA

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Kami, selaku penyelenggara Forum Diskusi Mahasiswa (FORDISMA) Fakultas Hukum mengucapkan selamat datang di Fakultas Hukum kepada seluruh mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal Tahun Ajar 2018/2019. Untuk membuka kegiatan di semester ganjil, Fordisma mengadakan diskusi yang bertemakan “Mahasiswa” diantara pertanyaan yang diajukan salah satunya adalah “apa  definisi dari mahasiswa?” Dari sekian banyaknya mahasiswa yang menghadiri forum ini, beberapa mulai menjabarkan pendapatnya sesuai dengan pahaman masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah sesosok manusia baru yang dilahirkan di era milenial, sebagai alat komunikasi antar penguasa dengan masyarakat, namun dilain sisi mahasiswa juga tidak bisa mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sosok pelajar yang harus mempunyai nilai akademis yang baik. Adapun yang mencontohkan tentang mahasiswa yang berdemonstrasi beberapa waktu lalu yang me...

PENTINGNYA MENEJEMEN WAKTU BAGI MAHASISWA

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Setelah sekian lama Forum Diskusi Mahasiswa Fakultas Hukum meliburkan diri dikarenakan adanya pergantian pengurus, Alhamdulillah kini sudah aktif kembali. Pada kesempatan ini, FORDISMA (Forum Diskusi Mahasiswa) mengangkat topik mengenai “Pentingnya Menejemen Waktu Bagi Mahasiswa”. Pada forum diskusi kali ini, penyelenggara mengundang tamu istimewa yakni Dosen Fakultas Hukum, ibu Anindita Dwi Hapsari, S.H.,M.H . Adapun curriculum vitae beliau sebagai berikut: Nama                                        : Anindita Dwi Hapsari, S.H.,M.H Tempat Tanggal Lahir               : Tegal, 10 Maret 1991 Jabatan                                ...